Get me outta here!

Thursday, 29 January 2026

Anak Hebat, Teman Hebat: Belajar Anti-Bullying di Sekolah dan di Rumah

Apa Itu Bullying?

Pernahkah kamu melihat teman yang diejek terus-menerus, didorong, atau dikucilkan dari kelompok? Jika pernah, itu bisa jadi contoh bullying.

Bullying adalah perilaku menyakiti orang lain secara sengaja, dilakukan berulang-ulang, dan membuat orang itu merasa takut, sedih, atau tidak berdaya. Bullying bisa terjadi di mana saja: di sekolah, di rumah, di lapangan, bahkan di dunia maya (online).

Bullying bukan hanya soal memukul atau mendorong. Kata-kata yang menyakitkan, tatapan merendahkan, dan sikap tidak mau berteman juga bisa menjadi bentuk bullying.

Ingat, bullying itu salah dan tidak boleh dibiarkan. Semua anak berhak merasa aman, dihargai, dan bahagia di mana pun berada.

Bentuk-Bentuk Bullying yang Perlu Kamu Kenali

Supaya kamu bisa menghindari bullying dan mencegahnya terjadi, kamu perlu tahu bentuk-bentuknya. Berikut beberapa contohnya:

  1. Bullying Fisik
    Terjadi ketika seseorang menyakiti tubuh orang lain, misalnya:

    • Memukul, menendang, menampar

    • Mendorong sampai jatuh

    • Menyenggol dengan sengaja

    • Merusak atau menyembunyikan barang teman

  2. Bullying Verbal (Lewat Kata-Kata)
    Terjadi ketika seseorang menyakiti perasaan orang lain dengan ucapan, misalnya:

    • Mengejek bentuk tubuh, warna kulit, atau cara berbicara

    • Memanggil dengan nama julukan yang kasar

    • Menghina keluarga atau keadaan teman

    • Mengancam dengan kata-kata

  3. Bullying Sosial (Dikucilkan)
    Terjadi ketika seseorang sengaja membuat orang lain merasa sendirian atau tidak diinginkan, misalnya:

    • Tidak mau mengajak main teman tertentu

    • Menyuruh teman lain untuk tidak berteman dengan seseorang

    • Berbisik-bisik dan menertawakan teman

    • Menyebarkan gosip agar orang lain tidak suka pada teman

  4. Bullying di Dunia Maya (Cyberbullying)
    Terjadi lewat handphone atau internet, misalnya:

    • Mengirim pesan jahat atau ejekan di WhatsApp

    • Menertawakan atau mengejek teman di grup kelas

    • Mengunggah foto teman lalu diberi komentar yang menyakitkan

    • Membuat akun palsu untuk mengolok-olok teman

Walau bentuknya berbeda-beda, semua jenis bullying sama-sama tidak boleh dilakukan. Korban bullying bisa merasa sedih, takut, malu, bahkan tidak mau sekolah.

Mengapa Bullying Itu Salah?

Bullying bukan sekadar “candaan” atau “bahan bercanda”. Kadang pelaku bilang, “Ah, cuma becanda!” tetapi korban benar-benar terluka.

Bullying itu salah karena:

  • Menyakiti perasaan dan hati teman

  • Bisa membuat teman takut dan cemas

  • Mengurangi kepercayaan diri teman

  • Bisa membuat teman tidak semangat belajar atau bermain

Bayangkan jika kamu berada di posisi yang diejek setiap hari. Pasti rasanya tidak enak, kan? Karena itu, penting untuk selalu mengingat:


Sekolah adalah tempat kamu belajar, bermain, dan bertemu banyak teman. Supaya sekolah terasa nyaman, semua anak perlu belajar berinteraksi dengan cara yang baik. Berikut beberapa sikap yang bisa kamu lakukan:

  1. Menghargai Perbedaan
    Di kelas, mungkin ada teman yang berbeda warna kulit, bentuk tubuh, agama, kebiasaan, atau kemampuan belajar.

    • Ada yang cepat mengerti pelajaran, ada yang perlu waktu lebih lama.

    • Ada yang pendiam, ada yang suka bercerita.

    • Ada yang jago olahraga, ada yang lebih suka membaca.

    Semua perbedaan itu wajar. Justru perbedaan membuat kelasmu unik. Jangan jadikan perbedaan sebagai alasan untuk mengejek atau mengucilkan.

  2. Menggunakan Kata-Kata yang Baik
    Kata-kata bisa menjadi obat, tapi juga bisa menjadi pisau.
    Biasakan mengucapkan:

    • “Terima kasih”

    • “Maaf”

    • “Tolong”

    • “Bagus sekali, kamu hebat!”

    Hindari kata-kata seperti:

    • “Kamu bodoh!”

    • “Kamu jelek!”

    • “Dasar lemah!”

    Kalau kamu bercanda, perhatikan wajah temanmu. Kalau dia tidak tertawa, malah terlihat sedih atau marah, artinya candaanmu tidak lucu dan bisa menyakitinya.

  3. Mau Berbagi dan Bekerja Sama
    Di sekolah, kamu sering bekerja dalam kelompok. Cobalah:

    • Mengajak teman yang sering sendirian untuk bergabung

    • Membagi tugas secara adil

    • Mendengarkan pendapat semua anggota kelompok

    Ketika bermain, ajak teman yang biasanya tidak diajak. Hal kecil seperti berkata, “Ayo main bareng!” bisa membuat teman merasa dihargai.

  4. Tidak Mengolok-olok Kesalahan Teman
    Semua orang bisa salah, termasuk kamu. Jika teman salah menjawab pertanyaan guru atau menjatuhkan buku di kelas, jangan ditertawakan.
    Lebih baik katakan, “Tidak apa-apa, coba lagi,” atau “Ayo kita belajar bareng.”

Interaksi Sehat dengan Teman di Rumah dan Lingkungan

Bullying tidak hanya terjadi di sekolah. Di rumah atau lingkungan sekitar, kamu juga bisa bertemu teman sebaya: tetangga, sepupu, atau teman bermain. Sikapmu tetap harus baik.

  1. Bersikap Adil Saat Bermain
    Ketika bermain di rumah atau di luar, misalnya bermain bola, petak umpet, atau permainan tradisional:

    • Jangan pilih-pilih teman hanya yang jago.

    • Jangan marah dan memaki ketika teman salah.

    • Jangan memaksa teman mengikuti aturan sesukamu.

    Belajarlah membuat aturan bersama dan menaati aturan itu dengan adil.

  2. Tidak Mengejek Keadaan Teman
    Ada teman yang rumahnya kecil, ada yang tidak punya mainan mahal, ada yang bajunya sederhana. Itu bukan alasan untuk mengejek.
    Menghina keadaan orang lain bisa sangat melukai hati.
    Ingat, setiap orang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Yang penting adalah sikap dan kebaikan hati, bukan barang yang dimiliki.

  3. Belajar Menyelesaikan Masalah dengan Tenang
    Kadang, saat bermain di rumah, kamu bisa bertengkar dengan teman atau saudara, misalnya berebut mainan atau tidak setuju dengan aturan permainan.
    Cobalah:

    • Berbicara pelan dan jujur tentang perasaanmu.

    • Mengatakan, “Aku tidak suka kalau kamu bicara seperti itu,” bukan langsung memukul.

    • Mengusulkan solusi, “Bagaimana kalau kita bergantian?”

    Jika sulit, mintalah bantuan orang dewasa yang kamu percaya.

Jika Kamu Melihat Bullying, Apa yang Harus Dilakukan?

Kamu mungkin bukan pelaku atau korban, tapi kamu bisa saja menjadi saksi. Menjadi saksi bukan berarti kamu diam saja. Kamu punya peran penting untuk membantu.

Beberapa hal yang bisa kamu lakukan:

  1. Tidak Ikut-Ikutan
    Jika ada teman yang mengejek atau mengolok-olok orang lain, jangan ikut tertawa atau menirukan. Sikap diam dan tidak mendukung sudah merupakan langkah awal yang baik.

  2. Mendukung Korban
    Setelah kejadian, kamu bisa mendekati teman yang dibully dan berkata:

    • “Kamu tidak salah.”

    • “Aku mau berteman denganmu.”

    • “Kalau kamu sedih, kamu bisa cerita.”

    Dukungan kecil seperti itu bisa membuat korban merasa tidak sendirian.

  3. Melapor pada Orang Dewasa
    Kalau bullying terjadi terus-menerus, atau sudah membuat teman sangat takut dan sedih, kamu perlu melapor.
    Kamu bisa bercerita pada:

    • Guru kelas atau guru piket di sekolah

    • Orang tua

    • Kakak atau saudara yang dipercaya

    Melapor bukan berarti kamu “mengadu” atau “tidak setia kawan”. Melapor artinya kamu peduli dan ingin membantu agar temanmu tidak terus disakiti.

Jika Kamu Pernah Membully, Apa yang Harus Dilakukan?

Mungkin tanpa sadar kamu pernah mengejek, mengucilkan, atau mendorong teman. Jika kamu menyadari pernah melakukan bullying, jangan malu untuk berubah menjadi lebih baik.

Beberapa langkah yang bisa kamu ambil:

  1. Mengakui Kesalahan
    Akui dalam hati, “Ternyata yang aku lakukan itu salah dan menyakiti teman.” Berani mengakui kesalahan adalah tanda bahwa kamu anak yang kuat dan mau belajar.

  2. Meminta Maaf dengan Tulus
    Datangi teman yang pernah kamu sakiti. Katakan, misalnya:

    • “Maaf ya, kemarin aku mengejek kamu. Itu salah.”

    • “Maaf aku pernah mendorong kamu. Aku tidak akan melakukannya lagi.”

    Mungkin temanmu tidak langsung memaafkan, tapi teruslah berbuat baik dan tunjukkan bahwa kamu sungguh-sungguh berubah.

  3. Berkomitmen untuk Berubah
    Janjikan pada dirimu sendiri:

    • Tidak akan mengejek atau memukul lagi.

    • Akan menggunakan kata-kata yang baik.

    • Akan menghargai teman, di sekolah maupun di rumah.

    Kamu bisa meminta bantuan guru atau orang tua untuk membimbingmu supaya bisa mengendalikan emosi.

Menjadi Teman yang Baik: Pahlawan Anti-Bullying

Setiap anak bisa menjadi pahlawan anti-bullying, bukan harus memakai jubah atau topeng, tetapi dengan memiliki hati yang lembut dan berani membela kebaikan.

Anak yang menjadi pahlawan anti-bullying biasanya:

  • Sopan dan ramah pada semua teman

  • Mau mendengarkan ketika teman bercerita

  • Tidak mengejek kelemahan orang lain

  • Membantu teman yang kesulitan

  • Berani berkata “itu tidak baik” jika melihat bullying

  • Mengajak teman untuk bermain bersama, bukan mengucilkan

Bayangkan jika semua anak di kelasmu dan di lingkungan rumahmu berjanji untuk tidak membully, saling menghargai, dan saling membantu. Sekolah akan terasa lebih menyenangkan, dan rumah akan menjadi tempat yang penuh kehangatan.

Jadi, apakah kamu siap mewujudkan sekolah tanpa bullying? 

Tulis jawaban kamu di kolom komentar beserta nama dan kelas kamu ya...

0 komentar:

Post a Comment